Sabtu, 25 April 2009

Sembilan Puluh Tujuh Minggu Lalu


Ia hanya ingin memulai hidup barunya dengan senyuman. Senyuman baru yang keluar dari bibirnya. Sembilan puluh tujuh minggu yang lalu ia baru mengenalnya. Perkenalan singkat yang membingungkan. Waktu itu ia bingung. Entah kenapa gadis perennial itu marah mencarinya. Gadis itu Bolak-balik mencarinya digedung kuliahnya. Padahal ia begitu jelas berdiri didepan gadis perennial yang mencarinya. Gadis itu Tanya sini,tanya situ. Ia hanya tersenyum geli melihat gadis itu. Gadis itu adalah seniornya. Senior yang rawut wajahnya agak marah mencarinya naik turun jenjang. Kemudia hatinya berkata lebih baik ia menghampirinya dan langsung mengenalkan bahwa ia-lah yang sedang dicarinya. Dengan perasaan setengah takut ia mendekati seniornya itu. Jantungnya mulai berdebar dengan kencangnya.

"Kakak mencari saya?"

"Kamu yang namanya Matiu?"

"Benar kak. Saya Matiu, dan ada masalah apa kak?".

"Cuma pengen tahu aja!".

Habis itu wajah galaknya tak kelihatan lagi. Hilang dimakan suasana ramai ketika puluhan mahasiswa keluar dari ruangan kelas. Itu sembilan puluh tujuh minggu yang lalu.

***

Ia sadar setelah kejadian itu, dan mengambil hikmahnya. Mungkin Tuhan masih sayang padanya. Kalau tidak sayang Tuhan padanya, pastilah ia di tangkap malam itu juga. Bundonya pernah bilang" jangan dekati tembakau Aceh itu kalau kau kekota nanti!". Ia juga masih teringat akan teman-temannya dibalik jeruji besi itu. Jeruji yang menghambat kebebasan . Ada tiga hal penting ketika penangkapan malam itu yang dipikirkannya ; pertama Tuhan, kedua ortu, dan yang terakhir Yingga. Yingga , gadis perennial yang akhir-akhir ini dekat dengannya. Ying selalu memberikan senyuman padanya. Itulah kebahagiaan baru didapatnya di tahun yang gersang ini.

Di hari senin siang yang panas, ia bertemu dengannya digedung kuliah biasa. Tempat ia sehari-hari mendengar ceramah ilmiah dari dosen yang mengabdikan diri untuk negara dan generasi muda. Ying menyapanya dengan wajah yang bening, terpancar dari pesona kesempurnaan ciptaan-Nya. Anggun, tulus, dan menimbulkan sejuta makna dari senyumannya. Iapun kelihatannya agak malu-malu memulai percakapan dengan Ying. Tapi secara spontan Ia memulainya. Ying memperhatikannya dengan keceriannya dan rasa ingin tahunya tentang kejadian itu. Ia menceritakan kejadian itu dengan detailnya. Ada rasa prihatin dirawut wajah Ying saat itu. Kata-kata takut terlontar dari mulutnya yang gugup. Pokoknya ia mengeluarkan semua hal yang tersimpan dalam pikirannya yang padat dan menjenuhkannya. Gadis itu turut prihatin atas kejadian itu padanya. Setelah semuanya terlontar, iapun mengalihkan dengan topic lain. Tentang novel sastra yang ia pinjamkan pada Ying.

"Matiu, Saraswati cerita yang mengharukan jiwaku. Sangat feminis. Perjuangan panjang seorang wanita cacat kelahiran Minangkabau. Akupun berulang-ulang membacanya. Kadang-kadang akupun ikut merasakan kesedihan Saraswati. Jarang loh wanita sekarang sekuat dan setabah itu. Matiu, kenapa kamu suka sekali mengoleksi novel feminis demikian?"

"Aku mengagumi Bundo. Ia orang yang paling kusayangi. Penuh rasa kasih sayang, dan tabah mendidikku. Ia wanita ideal bagiku. Wanita yang menyuapi dan membesarkanku sampai saat ini. Itulah sebabnya aku suka mengoleksi novel yang penuh dengan perjuanganya. Begitulah Ying" dengan singkat ia menjawab pertanyaan Ying.

Sungguh membosankan. Sudah setengah jam ia dan Ying menunggu dosen, namun tak muncul juga diruangan kelas. Ia menawarkan untuk makan siang bareng dengan Ying di sebuah kafe. Ying menerima tawaran itu. Mereka berdua turun dari jenjang gedung menuju kafe. Matahari yang galak panasnya mulai ditutupi awan, sehingga udara sejuk berhembus kearah mereka. Ia melihat wajah Ying dari sampingnya. Begitu ayunya. Sempurna. Dikedua pipinya ada lesung pipi, menjadikannya terpukau. Sekitar seratus meter dari arah kafe yang ia tuju, Ying berhenti seketika. Berbalik mengajakku mencari kafe lain dengan tiba-tiba. Dari wajahnya yang penuh pesona itu, menjadi merah padam. Terpancar suatu firasat tak enak dirona wajahnya. Ia langsung bertanya pada Ying yang sedang menyembunyikan sesuatu.

"Kamu kenapa Ying? Kok mencari kafe lain. Kamu lagi sakit ya? Atau ada orang lain melihatmu bersamaku?"

"Nggak. Cuma…Cuma…"

"Apa? Bilang aja! Masak ada rahasiaan segala".

"Udalah…kita cabut aja yuk!".

Dengan buru-buru Ying mengajaknya menghindar dari kafe itu. Haluan diarahkan kekafe lain. Sebuah kafe ideal buat nongkrongnya anak gaul. Kafe Rektorat. Suasana lagi sepi. Cuma beberapa orang saja sedang makan nasi goreng. Ia memesan nasi goreng dan jus mangga. Mereka berdua mengambil posisi dekat kaca. Mereka membelakangi kaca kafe itu. Posisi menyenangkan dimana pandangannya bisa diarahkan ke pintu utama kafe itu. Tak lama setelah itu pesananpun datang dimeja mereka. Ia mulai menikmati nasi gorengnya dan meneguk jus mangga yang dingin, dan menyegarkan. Hatinya urung untuk menanyai Ying kembali. Pikirannya melayang dalam spekulasi; mungkin Ying menyembunyikan sesuatu. Tingkahnya aneh kelihatan dari wajahnya tadi. Ia memandangi wajah Ying terus. Tak henti-hentinya. Ying pun tak melihatnya. Ying larut dalam ketakutan dan perasaan yang disembunyikannya dari kafe tadi. Sambil menikmati siang dalam teka-teki Ying, ia mengalihkan pandangan kekaca dibelakangnya. Tak ada sinyal. Sinyal dari keceriaan Ying. Tak ada percakapan diantara mereka. Larut dalam kebekuan kata. Entah siapa yang akan memulai percakapan manis diantara mereka.

Biar waktu yang menjawabnya. Waktu yang akan mengejar Ying untuk bicara disebelahnya. Keajaibanpun datang dengan tiba-tiba. Ying mulai membuka pembicaraan. Kata-kata kau keluar dari bibirnya yang seksi itu. Ia suka melihat bibirnya. Karna bibir itu membuat Ying cerewet setiap hari. Tapi hari ini bibir itu dalam kekakuan melontarkan kata-kata. Terbata-bata. Terbesir sebua pengakuan masa lalu. Ying menceritakan kenapa ia membalikan arah dikafe tadi. Sebenarnya ada sesuatu yang membuatnya tidak enak dihadapan cowok yang sedang meneguk jus mangga disebelahnya. Tapi apa boleh buat.

"Aku tadi melihat cowok dikafe itu. Cowok itu kenal samaku di lokasi KKN. Cowok itu punya adik perempuan. Nah, adiknya teman KKN-ku. Ia mulai pedekate denganku. Tapi, ya…sampai disitu usahanya. Usaha untuk jadian denganku gagal. Waktu festival musik anak jalanan, akupun jalan bareng dengannya. Tapi itu yang terakhir kalinya".

"Oh. Kirain apa tadi. Kataku ada orang nagih hutang sama kamu. Hehe…".

Ying mencubitnya. Suasana ceria kembali nampak di ruangan kafe itu. Ia tertawa lepas dan Ying terseyum mesem. Usahanya berhasil mengikat suasana dari kekakuan menjadi romantis. Dihadapannya makanan yang dipesan tadi sudah habis. Sudah saatnya ia melagkahkan kaki ke kasir. Dan mereka berdua keluar menuju pintu utama kafe itu. Sambil jalan bareng ia membuka sesi senda gurau bersama Ying. Benar-benar keceriaan.

Sebenarnya orang perennial sangat menyukaimu Ying. Orang perennial tak ingin menjadi munafik. Ying suatu saat orang perennial itu akan menakhlukanmu!

Mereka menuruni jenjang rektorat itu. Suasana setengah sore itu sepi. Cuma dua orang insane melangkahkan kakinya serentak menuju penantian bus kampus. Mereka berdiri dibawah pohon yang rindang. Anginpun berhembus, membuat suasana sejuk disekitarnya. Tak mungkin suasana seperti ini diperolehnya sebelumnya. Sangat langka sekali. Kalau boleh dikatakan sudah terlambat ia berhadapan dengan suasana ini. Karna selama ini ia sibuk dengan kegiatan kerohanian, teater, dan randai. Tapi tak apalah, yang penting dinikmati. Seminggu lagi bulan puasa. Dan sekarang mungkin awal dari sebuah perjuangan. Esok entahlah. Ia bersyukur ada kesempatan menakjubkan di sore ini.

Lama juga mereka menunggu bus di bawah pohon itu. Munkin sudah setengah jam. Ia mengarahkan pandangan kearah gedung rektorat. Lucu sekali. Ia tertawa sendiri. Ying-pun meliriknya heran.

"Kenapa kamu Matiu? Tertawa sendiri seperti orang kesurupan’.

"Ops..nggak ada. Cuma aku menertawakan gedung rektorat itu. Mirip markas power rangers."

"Ada aja!"

Bus kampuspun datang menghampiri mereka. Ia dan gadis itu duduk sebangku. Berdampingan. Ya, mungkin itulah yang diinginkannya. Sepanjang jalan ia asyik bercanda mengeluarkan segudang pertanyaan yang lucu pada Ying yang ceria. Mengasah kedekatan yang selama ini dihantui keraguan. Ia mulai mengkhianati idealismenya. Ia tak ingin munafik dihadapan teman-temannya. Ia ingin cinta. Hanya itu. Telah mati selama tiga tahun rasa itu. Tapi rasa itu bangkit setelah ia bergaul banyak diluar temannya yang boleh dikatakan homogen. Steril dari pencemaran budaya pop. Ia boleh dikatakan steril selama itu. Dan bagaimana kalau ia dekat dengan gadis perennial itu? Akankah lingkungannya mengatakan murtad? Murtad mungkin bahasa mereka yang sok suci. Rasa itu penting dalam hidup ini teman!. Kalau kau matikan ia akan menjadi gersang.

Ying diam membisu setelah canda berlalu darinya.

***

Ramadan itu datang Ying. Melatih manusia untuk sabar dikala susah maupun senang. Ia memberikan senyuman pada bayangan Ying. Serta selamat berpuasa. Sudah seminggu ia tak bertemu dengan Ying yang ceria itu. Rasa rindu merasuki hatinya. Pikirannya ingin melakukan sesuatu. Langkah rindunya itu melangkah keruang tengah, dan menekan nomor telfon rumah Ying. Sudah sahurkah ia di awal puasa ini?

"Ying. Selamat menunaikan ibadah Puasa. Aku hampir saja terlambat bangun sahur. Semalam aku mimpi tentang kau dan orang perennial itu. Kamu udah sahur?".

"Udah. Makanya jangan menghayal terus. Puasa dan perbanyak ibadahnya. Maafpin aku ya, nggak sempat ngomong ama kamu waktu itu. Lagian kamu buru-buru terus sih. Kayak orang kematian istri aja. Selamat puasa ya".

Ia diam sejenak sambil menikmati kebahagiaan yang baru dilontarkan Ying dalam telfon itu. Dan serine tanda waktu menahanpun mulai meraung memberikan perintah untuk berhenti makan. Ying orang perennial itu mulai menyukaimu

Rabu, 15 April 2009

Cinta Tidak Menunggu Seseorang Mengatakannya


Alkisah ada seorang pria yang menyimpan perasaan pada teman gadisnya. Hingga kemudian pada saat pernikahannya, ia memutuskan untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya pada gadis itu. Namun gadis itu akhirnya hanya menganggap itu hanyalah sebuah canda.

Dan ada seorang pria yang ingin mengatakan pada istrinya betapa ia mencintainya, namun ia tidak pernah mengatakannya, hingga istrinya itu meninggal dunia. Pria itu hingga sekarang terus meletakkan bunga diatas batu nisannya. Dengan ciuman dan kata-kata “AKU CINTA KAMU.” Entah apakah istrinya mengetahui hal itu?

Saat ini ada seorang gadis yang selalu ingin merasakan hangatnya pelukan kasih sayang ayahnya, tapi ia malu untuk mengatakannya. Hingga pada suatu hari ayahnya tak mungkin memeluknya lagi…

Banyak kisah yang terjadi setiap harinya, dan kita mungkin menyadari semua itu. Apa yang telah terjadi kemarin, tak mungkin kembali… tapi apakah kita bisa memastikan apa yang akan terjadi besok?

Pikirkanlah tentang sesuatu yang ingin kita katakan dan janganlah kita selalu menunggu saat yang tepat? Katakanlah cinta dan kasih sayang itu. Jika kau meninggalkan pesta yang ramai dan berjalan bersama, hanya berdua dengan seseorang… itulah cinta.

Ketika kau bersama seseorang, dan kau seringkali mendiamkannya. Tapi ketika ia tak bersamamu dan kau mencarinya… saat itulah kau merasakan cinta.

Jika ada seseorang yang selalu membuatmu tertawa, menatapmu penuh perhatian dan ingin selalu pergi bersamanya. Kau sedang jatuh cinta.

Ketika kau melihat sebuah foto bersama, dan kau mencari seseorang yang special…(untuk mengetahui siapa yang berada disampingya difoto itu) lalu kau membayangkan dirimu yang ada disana… yakinlah kau sedang jatuh cinta.

Ketika kau tidak menerima telepon saat kau sibuk belajar, tapi tak mampu menahan diri saat seseorang menelponmu… saat itulah kau sedang jatuh cinta.

Jika kau lebih tertarik menerima sebuah surat pendek dari seseorang daripada surat-surat lain yang panjang… kau sedang jatuh cinta.

Ketika kau mendapat tiket gratis untuk berdua, dan kau tak ragu-ragu mengajak seseorang, kau sedang jatuh cinta.

Kau terus mengatakan kami hanyalah teman biasa, tapi kau sadar kau tak bisa melepaskan diri darinya… saat itulah kau merasakan cinta.

Cinta bukanlah sesuatu yang buruk dan semua bergantung pada kita bagaimana menginginkannya. Berbagilah, dan katakanlah kepada orang-orang yang berarti bagimu….

Based on original Visionary template by Justin Tadlock
Visionary Reloaded theme by Blogger Templates

Visionary WordPress Theme by Justin Tadlock Powered by Blogger, state-of-the-art semantic personal publishing platform